Blogroll

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Wednesday, February 20, 2013


KLASIFIKASI KELOMPOK SOSIAL
A. Definisi Kelompok Sosial
1. Menurut Soerjono Soekanto = Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan yang hidup bersama karena adanya hubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.
2. Menurut Hendro Puspito = Kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.
3. Menurut Paul B. Horton & Chaster L. Hunt = Kelompok sosial adalah suatu kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.
1. Klasifikasi W.G. Summer – identifikasi diri.
IN-GROUP
Adalah kelompok social dengan mana individu mengidentifikasikan dirinya. Dilihat dari sikapnya, sikap in-group pada umumnya didasarkan pada factor simpati dan selalu memiliki perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok. digunakan pada anggota kelompok yang memiliki persahabatan, kerja sama dan keteraturan.
Contoh : Siswa sebuah SMA akan merasa memiliki ikatan dengan sekolahnya hingga ia akan mengatakan “sekolah kami” kepadia siswa sekolah lain ketika mereka berjumpa.
OUT-GROUP
adalah anggota kelompok lain yang cenderung ditandai rasa kebencian dan permusuhan. Sikap out-group selalu ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonisme atau antipati.
Contoh :
Ketika konflik social terjadi antar penduduk kampong,maka perasaan dan anggapan out group akan membahayakan in group,sehingga solidaritas pada kelompok dalam semakin kuat sedangkan prasangka pada kelompok luar semakin tajam.


  2. KELOMPOK SOSIAL BERDASAR ACUAN BERSIKAP/BERTINDAK
*MEMBERSHIP GROUP
Kelompok sosial tempat seseorang yang secara fisik menjadi anggotanya.
Contoh : seorang siswa dari seuah SMA
*REFERENCE GROUP
Kelompok sosial yang dijadikan acuan dalam bersikap, menilai atau bertindak oleh seseorang yang bukan sebagai anggota kelompoknya
Contoh : Seorang siswa SMA yang berprilaku seperti serang mahasiswa.padahal ia belum menjadi mahasiswa
3. Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Sistem Hubungan
a.  Kelompok Formal
Kelompok Formal adalah kelompok yang memiliki sistem hubungan yang sengaja diciptakan, sehingga unsur-unsur dalam suatu organisasi merupakan bagian-bagian fungsional yang berhubungan.
b.    Kelompok Informal
Kelompok informal adalah kelmpok yang memiliki hubungan secara pribadi, bersifat erat dan intim.
4. Klasifikasi Menurut Cara Terbentuknya
Klasifikasi kelompok menurut cara terbentunya dapat dibedakan menjadi kelompok semu dan kelompok nyata.
a). Kelompok Semu
Kelompok semu timbul ditengah-tengah pergaulan hidup manusia, bersifat sementara, tidak mempunyai kemungkinan membentuk tradisi ataupun ikatan sebagai anggota. Kelompok semu biasa disebut khalayak ramai atau khalayak umum. Kelompok semu tidak memiliki aturan-aturan sebagai pengendali. Berikut ini adalah ciri-ciri kelompok semu.
  • Tidak terencana, terjadinya tidak sengaja, sangat mendadak, atau spontan.
  • Tidak terorganisir dalam suatu wadah tertentu.
  • Tidak ada interaksi, tidak ada interrelasi dan tidak ada komunikasi secara terus menerus.
  • Tidak ada kesadaran berkelompok.
  • Kehadirannya tidak konstan.
Atas dasar ciri-ciri tersebut, kelompok semu dapat dibedakan menjadi kerumunan (crowd), massa (mass), dan publik.
1) Kerumunan (Crowd)
Kerumunan terbagi menjadi beberapa bentuk, seperti berikut ini :
  • Formal audience atau khalayak penonton, bisa juga pendengar resmi merupakan kerumunan yang mempunyai suatu pusat perhatian dan persamaan tujuan, tetapi sifatnya sangat pasif. Contohnya : Penonton bioskop dan hadirin pada suatu khotbah,
  • Planned expressive group adalah kerumunan yang tidak begitu mementingkan pusat perhatian, tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tercermin dalam kegiatan kerumunan serta kepuasan yang dihasilkan. Fungsinya sebagai pelepas ketegangan-ketegangan yang dialami orang kerena pekerjannya sehari-hari. Contohnya : orang-orang yang berdansa, berpesta, dan berekreasi.
  • Inconvenient causal crowds, kerumunan yang bersifat terlalu sementara yang ingin mempergunakan fasilitas-fasilitas sama. Misalnya, orang-orang antri karcis, orang-orang yang menunggu bis. Dalam kerumunan ini kehadiran orang luar menjadi halangan terhadap tercapainya maksud anggota kelompok.
  • Panic causal crowds atau kerumunan panik, yaitu orang-orang dalam keadaan penik yang sedang berusaha menyelamatkan diri dari suatu bahaya. Dorongan dalam diri individu cenderung mempertinggi kepanikan.
  • Spectator causal crowds atau kerumunan penonton, terjadi karena orang-orang ingin melihat suatu peristiwa tertentu. Kerumunan ini hampir sama dengan khalayak penonton, tetapi kerumunan penonton tanpa direncanakan.
  • Acting lawless crowds disebut juga actings mods atau kerumunan emosional. Kerumunan ini mempunyai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma-norma sosial.
  • Immoral lawless crowds atau kerumunan tak bermoral, yaitu segala tindakannya berlawanan dengan norma-norma pergaulan hidup, tetapi tanpa tujuan tertentu. Contohnya : orang-orang yang mabuk.
2) Massa atau Mass
Massa atau mass merupakan kelompok semu yang memiliki ciri-ciri hampir sama dengan kerumunan, tetapi kemungkinan terbentuknya disengaja dan direncanakan dengan persiapan sehingga tidak bersifat spontan. Misalnya, kelompok yang dikumpulkan untuk berdemonstrasi.
3)         Publik
Publik sebagai kelompok semu mempunyai ciri-ciri terbentuknya yang hampir sama dengan massa, perbedaannya adalah publik kemungkinan terbentuknya tidak pada suatu tempat yang sama. Terbentuknya karena ada perhatian yang disatukan oleh alat-alat komunikasi, seperti radio, televisi, dan pengeras suara. Alat-alat komunikasi memungkinkan publik berkembang jauh lebih besar jumlahnya, bahkan, meliputi sebagian dunia. Namun, dengan jumlah yang membesar tidak terbatas, akibatnya perhatian publik semakin tidak tajam.
Untuk memudahkan membentuk publik, biasanya digunakan cara-cara yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial atau kebiasaan masyarakat yang bersangkutan. Dalam penggunaan sehari-hari, kata publik biasanya disalahartikan dengan kata hadirin atau audience. Intinya hadirin adalah kelompok semu yang menempati suatu tempat yang sama sehingga mudah bertatap muka, sedangkan publik tidak harus dalam suatu tempat yang sama. Kerancuan istilah ini biasanya disebabkan kelompok semu dari salah satu bentuk kerumunan sekaligus bergabung dengan bentuk massa atau publik, misalnya kelompok yang mendengarkan pidato disuatu tempat, sekaligus pidatonya juga disiarkan melalui radio atau televisi.


b) Kelompok Nyata
Kelompok nyata mempunyai beberapa ciri khusus yang membedakannya dari kelompok semu. Sekalipun mempunyai berbagai macam bentuk, kelompok nyata mempunyai satu ciri yang sama, yaitu kehadirannya selalu konstan.
Kelompok nyata terbagi ke dalam beberapa bentuk, sebagai berikut :
1) Kelompok Statistik atau Statistical Group
Kelompok statistik atau statistical group memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Tidak direncanakan, tidak disengaja, tetapi tidak berarti sangat mendadak atau secara spontan, melainkan sudah terbentuk dengan sendirinya.
  • Tidak terhimpun dan tidak terorganisir dalam suatu wadah tertentu.
  • Tidak ada interaksi, tidak ada interrelasi dan tidak ada komnikasi secara terus menerus.
  • Tidak ada kesadaran berkelompok.
  • Kehadirannya konstan.
Kelompok statistik biasanya terbentuk karena dijadikan saran penelitian oleh ahli-ahli statistik atau sosiolog untuk kepentingan penelitian. Orang-orang yang dikelompokkan sebagai anggota biasanya tidak sadar dimasukkan sebagai anggota kelompok nyata statistik, mereka lebih berperan sebagai objek dari pada subjek.
Apabila kelompok nyata statistik ini diukur dengan kriteria yang diberikan oleh sosiologi, bahwa kelompok harus mencerminkan adanya kesadaran kelompok, interaksi dan komunikasi, maka kriteria tersebut tidak bisa diterapkan pada kelompok ini sehingga kelompok statistik tidak bisa dianggap sebagai kelompok. Meskipun banyak ahli sosiologi tidak menganggap kelompok ini sebagai sociologically significant, tetapi pengelompokan ini akan besar manfaatnya untuk memperoleh data-data dalam suatu penelitian ilmiah yang berdasarkan statistik. Misalnya, penggolongan kelompok menjadi kelompok anak-anak, wanita dan orang tua atau penggolongan kelompok berdasarkan pemilik kendaraan bermotor, kelompok pengusaha, sesuai dengan kebutuhan suatu penelitian.

2) Kelompok Sosieta atau Sosietal Group (Kelompok Kemasyarakatan)
Kelompok sosieta atau sosietal group memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Tidak direncanakan, tidak disengaja, terbentuk dengan sendirinya.
  • Kemungkinan terhimpun dalam suatu wadah tertentu.
  • Kemungkinan terjadi interaksi, interrelasi, ataupun komunikasi
  • Kemungkinan terjadi kesadaran kelompok.
  • Kehadirannya konstan.
Kelompok sosieta memiliki kesadaran akan adanya kesamaan jenis, seperti jenis kelamin, warna kulit, dan kesatuan tempat tinggal, tetapi belum ada kontak dan komunikasi diantara anggota dan tidak terlibat dalam organisasi.
Kelompok ini sadar dengan adanya unsur-unsur yang sama yang dimiliki seluruh anggota, tetapi tidak ada suatu interaksi. Dibandingkan dengan kelompok nyata statistik, kelompok sosieta anggota-anggotanya lebih berperan sebagai pelaku (subjek) dari pada objek.
3) Kelompok Sosial atau Social Group
Pengamat-pengamat sosial sering menyamakan kelompok sosial dengan masyarakat dalam arti khusus. Kelompom sosial terbentuk karena adanya unsur-unsur yang sama. Kelompok sosial memiliki anggota-anggota yang berinteraksi dan melakukan komunikasi secara terus menerus. Contohnya, tetangga, kenalan, teman sepermainan, teman seperjuangan, dan teman sekota.
4) Kelompok Asosiasi atau Associational Group
Kelompok ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Direncanakan atau sengaja dibentuk.
  • Terorganisir secara nyata dalam suatu wadah.
  • Adanya interaksi dan interrelasi serta komunikasi secara terus menerus.
  • Adanya kesadaran kelompok yang kuat.
  • Kehadirannya konstan.
Kelompok asosiasi adalah kelompok yang terorganisir dan memiliki struktur  formal atau kepengurusan, seperti ketua, para staf dan para pembantunya. Didalamnya terdapat kesadaran dan kesamaan perhatian atau keinginan dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu sehingga tampak adanya persamaan jenis perhatian, interaksi sosial, dan struktur organisasi.
Kadang-kadang tidak jelas batas-batas antara kelompok-kelompok kecil yang satu dengan lainnya yang digolongkan ke dalam kelompok asosiasi ini, misalnya perkumpulan olah raga atau kesenian dengan kesatuan angkatan bersenjata, atau partai-partai dengan badan-badan pendidikan.














B. Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya.
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
1.      Kelompok primer dan sekunder.

Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.

Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
a.       Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsurbackstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
b.      Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
c.       Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder adalah sebaliknya.
d.      Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
e.       Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
2.      Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.
3.      Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga:
a. kelompok tugas;
b. kelompok pertemuan; dan
c. kelompok penyadar.
Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.

Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.


BAB 4 KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas / Semester : XI / 2 (Dua)
Standar Kompetensi : Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural
Kompetensi Dasar :
1. Mendeskripsikan berbagai kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.
2. Menganalisis perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.
3. Menganalisis keanekaragaman kelompok sosial.
Indikator :
1. Mendiskripsikan pengertian kelompok sosial.
2. menguraikan macam-macam kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.
3. Mendiskripsikan keragaman suku-suku bangsa di dunia.
4. Mendiskripsikan keragaman suku-suku bangsa di Indonesia.
5. Mendiskripsikan aneka ras di dunia.
6. Mendiskripsikan aneka ras di Indonesia.
7. Mendiskripsikan aneka agama dan kepercayaan di Indonesia.
8. Mendiskripsikan aneka organisasi dan politik di Indonesia.
9. Menjelaskan Konsolidasi.
10. Menjelaskan Interaksi.
11. Menjelaskan primordialisme dan etnosentrisme.



URAIAN MATERI
A. ANEKA MACAM KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Menurut Mac Iver dan Page kelompok adalah sejumlah individu yang saling berinteraksi satu sama lain. Para ahli yang lain juga memberi batasan tentang kelompok yakni suatu kehidupan bersama individu dalam suatu ikatan. Ikatan hidup bersama tersebut adanya interaksi dan interrelasi sosial yang memungkinkan timbulnya perasaan bersama.
1. Kelompok semu
Kelompok semu adalah kelompok yang lahir dalam masyarakat akan tetapi sifatnya tidak ajeg, kecil kemungkinan untuk membentuk tradisi serta kesadaran kelompok dan tidak ada suatu keinginan untuk mempererat ikatan anggotanya.
Ciri-ciri kelompok semu adalah :
a. Tanpa rencana dan terbentuknya secara spontan.
b. Tanpa wadah tertentu untuk mengorganisir.
c. Kelangsungan interaksi, interrelasi serta komunikasi secara ajeg, tidak kita jumpai.
d. Kesadaran kelompok tidak ada.
e. Kehadirannya tidak tetap ( Davis, 1960 : 351).
Berdasarkan ciri-ciri diatas, kelompok semu dapat dibagi sebagai berikut :
a. Kerumunan ( Crowd )
Kerumuhan ialah kehadiran orang-orang secara fisik. Kerumunan ini segera menghilang setelah orang-orangnya bubar, dan dengan dengan demikian kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang sifatnya sementara.
Kerumunan dapat dibedakan antara yang berguna bagi organisasi sosial masyarakat yang timbul dengan sendirinya (tanpa diduga sebelumnya), serta kerumunan yang dikendalikan oleh keinginan-keinginan pribadi.
b. Massa ( mass )
Massa sebenarnya mendekati kerumunan, karena ciri-cirinya hampir sama, bedanya terletak pada ciri massa yang kemungkinan terbentuknya memang disengaja, direncanakan, ada persiapan yang tidak mendadak, dan tidak spontan.
Contohnya : kelompok yang sengaja dihimpun pada saat unjuk rasa, berkampanye, dan lain sebagainya.
c. Publik ( public )
Terbentuknya publik karena ada perhatian yang disatukan oleh alat-alat komunikasi seperti radio, televisi, dan sebagainya. Alat-alat komunikasi i ni dapat membentuk publik lebih besar lagi jumlahnya. Pulik sendiri tidak bisa terjadi pada tempat yang sama. Untuk memudahkan pembentukan publik, digunakan cara-cara yang ada hubungannya dengan nilai-nilai sosial atau kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan.

2. Kelompok Nyata
Kelompok ini mempunyai perbedaan ciri-cirinya, jika dilihat dari terbentuknya kelompok ini memiliki bermacam-macam bentuk, namun memiliki satu ciri yang sama yakni : kehadiran selalu konstan.
Bentuk Kelompok nyata terdiri sebagai berikut :
a. Kelompok statistik
Ciri-ciri terbentuknya kelompok ini adalah :
1. Tanpa terencana, tanpa disengaja, tetapi sudah terbentuk dengan sendirinya
2. Tak terorganisir dalam suatu wadah tertentu
3. Tak ada interaksi, interrelasi dan komunikasi secara ajeg
4. Tak ada kesadaran kelompok
5. Kehadiannya konstan
Kelompokok statistik ini terbentuk karena dijadikan sasaran penelitian oleh para peneliti statistik atau para ahli sosiolog untuk kepentingan penelitian.
b. Kelompok sosieta
Ciri-ciri terbentuknya kelompok ini adalah :
1. Tanpa rencana dan disengaja terbentuk dengan sendirinya
2. Terhimpun dalam suatu wadah tertentu
3. Kemungkinan adanya interaksi, intrerelasi dan komunikasi
4. Kemungkinan terjadinya kesadaran kelompok
5. Kehadirannya konstan
Kelompok ini mencerminkan adanya kesadaan kelompok, sebagai akibat kesamaan jenis ( jenis kelamin, warna kulit, tempat domisili ) atau juga karena diikat oleh lambang tertentu misalnya lambang negara, tanda pengenal kelompok, dan sebagainya.
c. Kelompok Sosial
Kelompok sosial menurut Robert K Merton yaitu sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.
Ciri-ciri terbentuknya kelompok ini adalah :
1. Terbentuk dengan sendirinya
2. Ada wadah yang memungkinkan menampung mereka
3. Ada interaksi dan interrelasi, sehingga terjadinya komunikasi yang intern
4. Ada kesadaran berkelompok
5. Kehadirannya konstan
Kelompok ini dapat disamakan dengan masyarakat dalam arti khusus. Ini karena terbentuknya oleh karena adnya unsur-unsur lain yang dapat diuraikan secara mendetail, seperti pekerjaan yang sama, status yang sama atau jenis kelamin yang sama. Contoh: tetangga, kenalan, teman sepermainan, teman seperjuangan, teman sekota, dan sebagainya.
d. Kelompok asosiasi
Ciri-ciri terbentuknya kelompok ini adalah :
1. Terencana atau memang disengaja dibentuk
2. Terorganisir secara nyata dalam suatu wadah
3. Ada interaksi dan interrelasi secara ajeg
4. Ada kesadaran berkelompok yang sangat kuat, serta Kehadirannya konstan

3. Kelompok Primer dan Sekunder
Konsep tentang kelompok primer dikenalkan oleh Charles Horton Cooley pada tahun 1909 di Amerika Serikat. Kelompok primer meliputi dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan akrab dan erat satu sama lain. Kelompok primer dimudahkan dengan anggota kelompok primer dapat melakukan kontak face to face, kecilnya kelompok, kontak yang mendalam terus menerus.
Fungsi sosial kelompok primer, kelompok primer berfungsi sebagai tempat untuk memperkenalkan pola kebudayaan kita, kelompok ini juga sebagai institusi yang mempersiapkan setiap individu untuk menjalani kehidupan sosial yang lebih luas, kelompok ini pula yang menentukan arti kenyataan sosial bagi kita, Karena ia tidak membentuk persepsi kita tentang dunia, tetapi juga mementuk persepsi kita melalui umpan balik yang diberikan pada kita, mengenai pantas tidaknya perilaku kita.
Kelompok sekunder adalah kelompok yang didalamnya orang hanya tahu sedikit saja mengenai orang lain atau tidak tau apa-apa mengenainya. Interaksi secara formal, lebih nampak dalam kelompok ini. Tiap individu dalam menjaga hubungan lebih berhati-hati atau cenderung berjaga-jaga.
4. Kelompok Dalam dan Kelompok Luar
Kelompok dalam ( In Group ) ialah satuan sosial dimana individu menjadi bagian dari padanya, atau dengannya mereka mengidentifikasikan diri. Identifikasi diri ini berdasarkan kepentingan tergantung dari keadaan dan persyaratan tertentu. Misalnya, seseorang individu secara tak langsung menggolongkan dirinya sebagai kelompok kami ( in Group ).
Kelompok luar ( Out Group ) adalah merupakan satuan sosial dimana individu tidak merupakan bagian daripadanya, atau yang dengannya mereka tidak mengidentifikaikan diri. Sikap anggota out group selalu ditandai perbedaan atau sering dengan adanya pertentangan.

5. Gemainschaft dan Gesellschaft
Kedua kelompok ini lahir dari karya besar sosiolog Jerman yaitu Ferdinand Tonnies (1845-1936) yang berjudul Gemainschaft Und Gesellschaft
a. Gemainschaft
Kelompok ini bersumber pada anggapan bahwa dalam setiap diri individu terdapat unsur easenwillen yaitu unsurkemauan manusia yang berakar dari naluri kemudian menjadi kuat dan sempurna sebagai kebiasaan bersifat irrasional dan implusif.
Dalam kelompok ini, rasa setia kawan dan kolektivitas sangat erat, bahkan karena keratan itu sampai melahirkan iirasional. Keeratan tersebut biasanya didasarkan pada adanya hubungan darah. Ini bermula dari perkawinan seperti : keluarga, kerabat, suku bangsa, dan seagainya.
b. Gesellschaft
Kelompok ini bersumber pada anggapan bahwa dalam setiap diri individu terdapat unsur yang disebut Kurwillen. Yaitu unsur kemauan manusia yang berakar pada sikap, tin gkah laku, dan perbuatan berdasarkan pertimbangan akal dan pikiran tertentu dan bersifat rasional. Pikiran yang mendorong individu bergabung dalam kelompok ini, karena ada maksud dan tujuan tertentu berdasarkan untung rugi. Diantara para anggotanya hapir tak ada ikatan batin atau rasa setia kawan yang bersifat naluriah. Unsur kebersamaan ikatannya sangat longgar. Jadi kalau salah satu anggota sudah tidak membutuhkan yang lain melalui kelompok ini, mereka dapat melapaskan diri dari kelompok itu.

6. Formal Group dan Informal Group
Formal Group adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya. Contohnya adalah perkumpulan pelajar, himpunan wanita suatu instansi pemerintah, persatuan sarjana-sarjana dari suatu perguruan tinggi tertentu dan sebagainya.
Informal Group tidak mempunyai struktur dan organisasi yang tertentu atau yang pasti. Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama.

7. Membership Group daan Reference Group
Membership Group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Namun untuk menentukan keanggotaan secara fisik tidak dapat dilakukan secara mutlak, hal ini disebabkan karena perubahan-perubahan keadaan yang dappat mempengaruhi derajat interaksi didalam kelompok. Maka dikemukakan istilah-istilah Nominal Group member dan Peripheral Group member. Seorang anggota Nominal Group dianggap oleh anggota-anggota lain sebagai seseorang yang masih berinteraksi dengan kelompok sosial yang bersangkutan akan tetapi interaksinya dengan anggota-anggota lain dari kelompok tadi berkurang. Seorang anggota Peripheral Group seolah-olah sudah tidak ada berhubungan lagi dengan kelompok yang bersangkutan sehingga kelompok tersebut tidak mempunyai kekuasaan apapun juga atas anggota tadi.
Reference Group adalah kelompok sosial yang menjadi ukuran bagi seseorang (buka anggota kelompok tersebut)untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan kata lain, seseorang bukan anggota kelompok sosial yang bersangkutan, mengidentifikasikan dirnya dengan kelompok tadi. Misalnya, seseoorang yang ingin sekali untuk menjadi mahasiswa, akan tetapi gagal dalam memenuhi persyaratan untuk memasuki salah satu perguruan tinggi, bertingkah laku sebagai mahasiswa, walaupun dia bukan mahasiswa.

8. Community dan Society
Community adalah suatu persekutuan hidup yang oleh polak, disbutnya sebagi oraganisasi total kehidupan sosial dlam suatu wilayah tertentu.
Unsur-unsur Community sentiment adalah :
a. Seperasaan : unsur seperasaan akibat bahwa seseorang berusaha untuk mengidentifikasi dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut sehingga kesemuanya dapat menyebutkan dirinya sebagai kelompok kami, perasaan kami, dan lain sebagainya.
b. Sepenaggungan : setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri.
c. Saling memerlukan : individu yang ergabung dalam masyarakat setempat merupakan dirinya bergantung pada comunitynya yang meliputi kebutuhan fisik maupun kebutuhan-kebutuhan psikologisnya.
Perwujudan yang nyata daripada individu terhadap kelompoknya yaitu masyarakat setempat adalah berbagai kebiasaan masyarakat, perikelakuan-perikelakuan tertentu yang secara khas merupakan ciri masyarakat itu.
Society adalah sering diterjemahkan seperti masyarakat, akan tetapi society sebenarnya tidak terikat pada adanya persamaan tempat tinggal. Society biasanya diartikan sebagai masyarakat pada umumnya.
9. Organisasi Sosial
Stephen Robins ( 1995 ) mendefinisikan organisasi sebagai kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan batasan yang relatif, yang diidentifikasikan yang bekerja relatif terus menerus, untuk mencapai tujuan bersama.
Beberapa komponen yang terdapat dalam organisasi yaitu :
a. Kesatuan sosial yaitu ada sejumlah orang yang saling berhubungan yang berlangsung relatif dan terus menerus.
b. Dikoordinasikan yaitu ada unsur pengaturan dengan struktur yang jelas.
c. Batasan yang relatif dapat diidentifikasikan artinya ada daftar keanggotaan termasuk pengurus yang dapat membedakan dengan orang lain yang bukan anggota.
d. Bekerja relatif terus menerus, ada keterkaitan dan partisipasi anggota secara teratur.
e. Organisasi ini ingin mencapai tujuan.
Ada dua jenis Organisasi sebagai berikut :
a. Organisasi formal
Organisasi formal sifatnya lebih teratur, mempunyai struktur organisasi yang resmi terdapat perencanaan dan program yang akan dilaksanakan secara jelas. Contohnya, OSIS, PSSI, PWI dan lain sebagainya.
b. Organisasi Informal
Sifatnya tidak resmi, tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas, begitu juga perencanaan dan progaram-program yang akan dilaksanakan tidak dirumuskan secara jelas, kadang-kadang terjadi begitu saja secara spontan. Contohnya, karang taruna, kelompok pecinta sesuatu, fans clup suatu group musik atau orang-orang terkenal.

10. Kelas Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, pengertian kelas sosial hampir sama dengan lapisan sosial, yaitu penentuan kedudukan seseorang dimasyarakat berdasarkan ekonomi seperti dilihat pada faktor uang, tanah, atau kekuasaan.
Kriteria penggolongan kelas sosial. Antara lain :
a. Besar jumlah anggota
b. Kebudayaan yang sama
c. kelanggengan
d. Tanda, simbol, atau lambang yang merupakan ciri khas
e. Batas-batas ysng tegas bagi kelompok itu maupun kelompok lain
f. Antagonisme tertentu.
Contoh : kelas menengah, golongan pengusaha, kaum bangsawan.

11. KASTA
Istilah kasta dipakai untuk menyebut setiap lapisan dalam masyarakat yang sifatnya turun menurun dan diperolehnya status ini sejak lahir secara permanen tanpa mengalami perubahan sampai dia meninggal dunia. Seperti pada masyatrakat Bali. Disana masyarakat terbagi menjadi emapat lapisan, yaitu : Brahmana, Satria, Waisya, dan Sudra.Sistem kasta ini makin jelas dan makin diperkuat oleh adat istiadat dan agama.
Ciri-ciri kasta dapat disebutkan sebagai berikut :
a. Penghormatan kepada anggota kasta yang lebih tinggi oleh kasta yang lebih rendah.
b. Terhadap kasta yang lebih rendah selalu ditekankan tentang inferioritas yang melekat pada diri mereka.
c. Kasta yang lebih rendah kurang mendapat kesempatan yang lebih baik seperti pendidikan yang baik, atau usaha yang lebih besar.
d. Pria dari kasta yang lebih tinggi dapat kawin dengan wanita dalam kastanya atau dari kasta yang lebih rendah, sedangkan pria dari kasta yang lebih rendah hanya dapat kawin dengan wanita dari kastanya sendiri.

12. LEMBAGA
Lembaga berarti suatu sistem norma untuk mencapai tujuan tertentu yang oleh masyarakat dianggap penting. Sistem norma tersebut mencakup gagasan, aturan, tata cara kegiatan, dan ketentuan sanksi ( reward system ).
Ciri-ciri lembaga sosial menurut Gillin dan Gillin yaitu :
1. Pola pemikiran dan perilaku yang terwujud dalam aktivitas-aktivitas masyarakat beserta hasil-hasilnya.
2. Mempunyai suatu tingkat kekekalan tertentu.
3. Mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu.
4. Mempunyai alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga tersebut.
5. Memiliki lambang-lambang yang merupakan simbol untuk menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga tersebut.
6. Dalam merumuskan tujuan dan tata tertibnya, lembaga memiliki tradisi yang tertulis dan tidak tertulis.


KONFLIK SOSIAL DAN INTEGRASI SOSIAL




A. Pengertian Konflik
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konflik diartikan sebagai percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih(atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tak berdaya.


Dalam Bahasa latin : Configere artinya saling memukul.

Pengertian Konflik menurut Ahli :
  • Soerjono Soekanto : Suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan /atau kekerasan.
  • Gillin and Gillin : konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik, emosi , kebudayaan dan perilaku.

Faktor-faktor Penyebab Konflik
Soejono Soekanto mengemukakan 4 faktor penyebab terjadinya konflik yaitu :
  • perbedaan antarindividu,
  • perbedaan kebudayaan ,
  • perbedaan kepentingan dan
  • perubahan sosial.

Perbedaan antarindividu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggan, dan identitas seseorang.
Sebagai contoh anda ingin suasana belajar tenang tetapi teman anda ingin belajar sambil bernyanyi, karena menurut teman anda itu sangat mundukung. Kemudian timbul amarah dalam diri anda. Sehingga terjadi konflik.

Perbedaan Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk oleh keluarga dan masyarakat . tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma yang sama. Apa yang dianggap baik oleh satu masyarakat belum tentu baik oleh masyarakat lainnya.
Interaksi sosial antarindividu atau kelompok dengan pola kebudayaan yang berlawanan dapat menimbulkan rasa amarah dan benci sehingga berakibat konflik.

Perbedaan Kepentingan
Setiap kelompok maupun individu memiliki kepentingan yang berbeda pula. Perbedaan kepentingan itu dapat menimbulkan konflik diantara mereka.

Perubahan Sosial
Perubahan yang terlalu cepat yang terjadi pada suatu masyarakat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang berlaku, akibatnya konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu dengan masyarakat.
Sebagai contoh kaum muda ingin merombak pola perilaku tradisi masyarakatny, sedangkan kaum tua ingin mempertahankan tradisi dari nenek moyangnya. Maka akan timbulah konflik diantara mereka.



Bentuk-bentuk Konflik

Menurut Lewis A. Coser konflik dibedakan menjadi 2 yaitu :
  1. Konflik realistis berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap sistem atau tuntutan yang terdapat dalam hubungan sosial.
  2. Konflik nonrealistis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonis(berlawanan), melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk meredakan ketegangan.

Berdasarkan kedua bentuk konflik diatas Lewis A. Coser membedakannya lagi kedalam dua bentuk konflik berbeda, yaitu :
  • Konflik In-group adalah konflik yang terjadi dalam kelompok itu sendiri
  • Konflik Out-Group adlah konflik yang terjadi antara suatu kelompok dengan kelompok lain.

Menurut Soerjono Soekanto konflik dibedakan menjadi 5 bentuk, yaitu :
  • Konflik atau pertentangan pribadi
  • Konflik atau pertentangan rasial
  • Konflik atau pertentangan antar kelas-kelas sosial
  • Konflik atau pertentangan politik
  • Konflik atau pertentangan yang bersifat internasional

Berdasarkan Sifatnya :
  • Konflik destruktif, merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang , rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok orang . Pada titik tertentu konflik ini dapat merusak atau menghancurkan sebuah hubungan.
  • Konflik konstruktif, merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini menghasilkan konsesus dari perbedaan pendapat menuju sebuah perbaikan.

Berdasrkan posisi pelaku yang berkonflik
  • Konflik vertikal, konflik antar komponen masyarakat didalam suatu struktur yang bersifat hirarkis
  • Konflik horisontal,konflik antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan relatif sama.
  • Konflik diagonal, merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketidakadilan aloksi sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan ekstrim, contoh konflik poso

Berdasarkan sifat pelaku yang berkonflik
  • Konflik terbuka, merupakan konflik yang diketahui semua pihak, contoh konflik antara Israel dengan Palestina
  • Konflik tertutup, konflik yang hanya diketahui oleh orang-orang atau kelompok yang terlibat konflik
Berdasarkan konsentrasi aktivitas Manusia di dalam masyarakat:
  • Konflik sosial, merupakan konflik yang terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan sosial dari pihak yang berkonflik. Konflik sosial dibedakan menjadi dua,yaitu :
1.      Konflik sosial vertikal : konflik yang terjadi antara masyarakat dengan negara.
2.      Konflik sosial horisontal : konflik yang terjadi antar etnis, suku atau agama
  • Konflik Politik, yaitu konflik yang terjadi akibat terjadi karena perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan kekuasaan
  • Konflik Ekonomi, konflik akibat adanya perebutan sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonflik.
  • Konflik Budaya, konflik akibat adanya perbedaan kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik.
  • Konflik Ideologi, konflik akibat perbedaan paham yang diyakini oleh seseorang atau sekolompok orang , contoh konflik saat G30-S/PKI
Dari sudut psikologi sosial, Ursula Lehr mengemukakan konflik sebagai berikut :
  • Konflik dengan orangtua
  • Konflik dengan anak-anak sendiri
  • Konflik dengan keluarga
  • Konflik dengan orang lain
  • Konflik dengan suami atau istri
  • Konflik disekolah
  • Konflik dalam pemilihan pekerjaan
  • Konflik agama
  • Konflik pribadi

Dampak Sebuah Konflik

Dampak sebuah konflik memiliki 2 sisi yang berbeda yaitu dilihat dari segi positif dan dari segi negatif.
Segi positif dari konflik adalah sebagai berikut:
  1. Konflik dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas di telaah.
  2. Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nila-nilai, serta hubungan-hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok.
  3. Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain.
  4. Konflik merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
  5. Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma baru.
  6. Konflik dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat.
  7. Konflik memunculkan sebuah kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan yang seimbang.
Segi negatif dari konflik :
  1. Keretakan hubungan antarindividu dan persatuan kelompok.
  2. Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia.
  3. Berubahnya kepribadian para individu.
  4. Munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah.


Konflik Dan Kekerasan

  • Dalam KBBI kekerasan didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabakan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.
  • Secara sosiologis kekerasan umumnya teradi saat individu atau kelompok yang berinteraksi mengabaikan norma-norma dan nilai sosial dalam mencapai tujuan masing-masing.Akibatnya terjadilah konflik yang bermuara  kekerasan.

Teori – teori tentang Kekerasan :

Menurut Thomas santoso, terdapat 3 teori tentang kekerasan, yaitu :
  1. Teori Kekerasan sebagai tindakan aktor(individu) atau kelompok
    • Manusia melakukan kekerasan karena adanya faktor bawaan, seperti kelainan genetik atau fisiologis

  1. Teori Kekerasan Struktural
·        Kekerasan bukan berasal dari orang tertentu melainkan terbentuk dalam suatu sistem sosial. Para ahli memandang kekerasan tidak hanya dilakukan oleh aktor atau kelompok semata melainkan dipengaruhi oleh suatu struktur.

  1. Teori Kekerasan sebagai kaitan antara aktor dan struktural
·        Konflik merupakan sesuatu yang telah ditentukan sehingga bersifat endemik bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu ada 4 jenis kekerasan yang diidentifikasikan, yaitu :
a.       kekerasan terbuka (yang dapat dilihat)
b.      kekerasan tertutup (kekerasan tersembunyi, berupa ancaman)
c.       kekerasan agresif (kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, penjambretan)
d.      kekerasan defensif (kekerasan yang dilakukan untuk melindungi diri)

Salah satu bentuk kekerasan kolektif yang akhir-akhir initerjadi adalah : terorisme.



Cara Pengendalian Konflik dan Kekerasan

Secara umum, ada tiga macam bentuk pengendalian konflik sosial, yaitu konsoliasi, mediasi dan arbitasi.

Konsoliasi
Dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak yang bertikai.

Mediasi
Dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator.

Arbitasi
Dilakukan apabila kedua belah pihak sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan-keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.

Ajudication
Cara penyelesaian konflik melalui pengadilan




INTEGRASI SOSIAL

Pengertian Integrasi Sosial
·        Dalam KBBI integrasi diartikan pembauran sesuatu yang tertentu hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat

·        Integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebur dapat meliputi ras, etnis, agama bahasa, kebiasaan, sistem nilai dan lain sebagainya.

Pengertian integrasi sosial menurut ahli :
  • Menurut Baton : integrasi sebagai suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan fungsi penting pada perbedaan pada ras tersebut

Syarat terjadinya Integrasi
Menurut  William F. Ogburn dan Meyer Nimkoff, syarat  terjadinya integrasi sosial adalah :
  • Anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan mereka
  • Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (konsensus) bersama mengenai nilai dan norma
  • Nilai dan norma sosial itu berlaku cukup lama dan dijalankan secara konsisten

Faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya proses integrasi
  • Homogenitas kelompok, pada masyarakat yang homogenitasnya rendah integrasi sangat mudah tercapai , demikian sebaliknya.
  • Besar kecilnya kelompok, jumlah anggota kelompok mempengaruhi cepat lambatnya integrasi karena membutuhkan penyesuaian diantara anggota.
  • Mobilitas geografis, semakin sering anggota suatu masyarakat datang dan pergi maka semakin mempengaruhi proses integrasi
  • Efektifitas komunikasi, semakin efektif komunikasi, maka semakin cepat integrasi anggota-anggota masyarakat tercapai.

Bentuk-bentuk integrasi sosial
  • Integrasi Normatif : integrasi yang terjadi akibat adanya norma-norma yang berlaku dimasyarakat,  contoh masyarakat Indonesia dipersatukan oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika
  • Integrasi Fungsional, integrasi yang terbentuk sebagai akibat adanya fungsi-fungsi tertentu dalam masyrakat. Contoh Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, mengintegrasikan dirinya dengan melihat fungsi masing-masing, suku bugis melaut, jawa pertanian, Minang pandai berdagang.
  • Integrasi Koersif, integrasi yang terbentuk berdasarkan kekuasaan yang dimiliki penguasa.. Dalam hal ini penguasa menggunakan cara koersif.
Proses Integrasi

  • Asimilasi : berhadapannya dua kebudayaan atau lebih yang saling mempengaruhi sehingga memunculkan kebudayaan baru dengan meninggalkan sifat asli.
  • Akulturasi : proses sosial yang terjadi bila kelompok sosial dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada kebudayaan asing (baru), sehingga kebudayaan asing (baru) diserap/diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri, tanpa meninggalkan sifat aslinya.

Faktor-faktor Pendorong Integrasi Sosial
  • Adanya tolerasnsi terhadap kebudayaan yang berbeda
  • Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi
  • Mengembangkan sikap saling menghargai orang lain dengan kebudayaannya
  • Adanya sikap yang terbuka dengan golongan yang berkuasa
  • Adanya persamaan dalam unsur unsur kebudayaan.
  • Adanya perkawinan campur (amalgamasi)
  • Adanya musuh bersama dari luar.